Relevansi Fasilitas dengan Kualitas Kesehatan Masyarakat
Relevansi Fasilitas dengan Kualitas Kesehatan Masyarakat

Fasilitas dalam masyarakat beragam, tergantung dari besar kecilnya penghasilan keluarga. Air ledeng dan listrik dapat dinikmati oleh mereka yang mampu membayarnya. Bagaimanapun, di sepanjang rel kereta api dan sungai, kondisi sanitasi luar biasa buruknya. Di daerah-daerah tersebut sungai dimanfaatkan baik untuk mandi maupun untuk mencuci pakaian dan kakus sekaligus. Kantor Pekerjaan Umum setempat malah membuang sampah di jalan-jalan kecil dekat sungai. Penduduk di daerah ini ternyata pergi belanja ke pasar-pasar besar yang letaknya berdekatan, walaupun barang keperluan yang sama itu dapat juga dibeli di warungwarung setempat di daerah pinggiran kota. Kendaraan umum untuk ke pasar-pasar yang lebih besar ini terutama becak.

Daerah ini dihuni oleh keluarga dari golongan menengah yang berpendidikan cukup, dan berpenghasilan secara teratur; ada juga keluarga-keluarga yang lebih miskin yang bekerja sebagai buruh harian dan sejumlah lagi yang sekedar menjual tenaga, tergantung pada orang lain. Para wanita miskin yang aktif dalam PKK umumnya suka memanfaatkan uang arisan. PKK juga memberikan bantuan untuk mempersiapkan upacara-upacara adat Jawa seperti pada waktu ulang tahun, menyambut kehamilan dan merayakan perkawinan. Ada juga sejumlah perkumpulan di daerah ini, termasuk kelompok pengajian, baik untuk pria maupun wanita, yang mengadakan pertemuan secara teratur.

Semarang yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah, merupakan kota nomor lima terbesar di Indonesia, dan dalam urutan merupakan nomor empat terpadat penduduknya. Sejarahnya cukup panjang dan agak rumit. Menurut kebanyakan laporan, konon kabarnya para pedagang Cina telah menetap di daerah tersebut sejak zaman Dinasti Ming di sekitar tahun 1400. Ketika VOC meningkatkan kegiatan komersialnya diJawa pada abad ke-17, sekelompok besar pedagang dan pengusaha bangsa Cina telah ada di tempat itu. Pada tahun 1678, Semarang diserahkan kepada VOC yang meningkatkan fasilitas pelabuhan serta membangun benteng di sana. Di sekitar tahun 1850, Semarang bagian tengah dibangun menjadi perkampungan khusus Cina dan penduduk berkebangsaan Cina diminta untuk tinggal di sektor tersebut. Tatkala penduduk kota makin berkembang dan Belanda mengurangi sistem pemisahan daerah tempat tinggal menurut kebangsaan, tetap saja wilayah pusat perdagangan di kota dikuasai oleh Cina.

Pada tahun 1976, kota Semarang diperluas dengan memasukkan sejumlah desa di sekitarnya ke dalam pemerintahan kotamadya. Meskipun para pembesar pemerintahan kota berupaya keras untuk membatasi arus para migran dari pedesaan ke kota-kota di Jawa, namun para pendatang yang miskin terus mengalir masuk kota dengan tujuan mencari pekerjaan. Banyak dari para pendatang ini hanya untuk sementara tinggal di kota Semarang, karena setelah memperoleh sej umlah uang mereka akan segera kembali kepada keluarga mereka di pedesaan. Pendatang musiman seperti ini, baik pria maupun wanita, seringkali bekerja sebagai pedagang kecilkecilan, yang menjajakan makanan dan minuman di seluruh wilayah kota. Penjaja makanan ini biasanya menyediakan berbagai macam makanan kecil, kue basah serta makanan anak-anak seperti bubur, dengan harga yang sangat murah. Terus-menerus keluar-masuk kota dengan tujuan melaksanakan pekerjaan seperti ini lama-kelamaan menghapus perbedaan antara keluarga pedesaan dan keluarga perkotaan.

Ada keanekaragaman yang besar dalam hal kaitan kebudayaan di dalam kota Semarang: keluarga pedagang-pedagang Cina, para pedagang keliling, para pegawai negeri yang beragama Islam fanatik, di samping para wanita tuna susila, mereka semua bercampur-baur dan dapat tinggal di ling-kungan yang sama. Jika orang berusaha memahami golongan penduduk di dalam kota, mungkin beberapa perbedaan perlu diingat. Pertama, di kalangan bangsa Cina, terdapat perbedaan yang penting antara kelompok Cina totok, atau berdarah asli Cina, dengan Cina peranakan, orang-orang Cina yang lahir di Indonesia, biasanya dilahirkan oleh ibu berbangsa Indonesia. Walaupun mereka menyandang nama Cina, yang disebut belakangan ini biasanya tak bisa berbahasa Cina.

Kedua, orang Jawa sendiri dapat dikelompokkan sebagai berikut: I) golongan abangan atau “wong cilik” atau rakyat kecil, para petani penggarap yang seringkali melakukan berbagai upacara adat Jawa, di antaranya berbagai jenisslametan atau pesta adat; 2) golongan santri, pengikut Islam yang ketat, biasanya meliputi kelompok petani dan pedagang yang lebih tinggi penghasilannya; 3) golongan priyayi, para keturunan bangsawan yang menjalankan tradisi Hindu-Jawa, biasanya golongan ini terdapat di antara para pegawai pemerintah atau juga golongan menengah atas yang berpen-didikan cukup. Perbeda4n dalam pemelukan agama mereka ini penting, karena dengan demikian dapat dilihat bagaimana keluarga-keluarga mereka berorientasi terhadap nilai-nilai penting yang berbeda-beda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here