Perbandingan-Perbandingan Kisah Para Wanita dalam Memberi Makan Bayinya
Perbandingan-Perbandingan Kisah Para Wanita dalam Memberi Makan Bayinya

Rosa, Grace, Nyonya Sunoto dan Amporn sesungguhnya menunjukkan lebih banyak persamaan daripada sekedar fakta bahwa mereka semua harus berjuang keras untuk membesarkan anak-anak mereka dalam kondisi yang cukup sulit. Mereka semuanya bermigrasi dari masyarakat pedesaan atau perkotaan dengan tujuan untuk mengejar kehidupan yang lebih baik di Bogota, Nairobi, Semarang dan Bangkok. Sementara Amporn, Rosa dan Grace banyak bergantung pada para tetangga dalam hal nasihat atau bantuan dalam berbagai bentuk, Nyonya Sunoto tampak lebih dipengaruhi oleh sanak saudaranya daripada tetangga-tetangganya.

Amporn, Nyonya Sunoto dan Rosa memiliki simpanan pengetahuan tradisional mengenai cara mengasuh anak, baik secara ritual maupun praktis, sesuatu yang membuat mereka dapat mengatasi berbagai trauma dalam membesarkan anak di tengah-tengah cengkeraman kemiskinan di kota besar. Rosa, Grace dan Amporn ketiganya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di dalam lingkungan keluarga-keluarga berada. Namun ironisnya, satu-satunya ibu yang tidak menyusui anaknya, dalam hal ini Amporn, malah memiliki ijazah dalam bidang perawatan anak.

Mungkin dalam hal ini komposisi keluarga merupakan hal yang menentukan juga dalam pola pemberian makan kepada bayi. Namun toh variabel ini tidak begitu mudah untuk dianalisa. Hubungan dengan para suami atau teman hidup bersama tampaknya juga senantiasa berubah-ubah untuk kebanyakan wanita. Nyonya Sunoto misalnya, tampak mempunyai hidup perkawinan yang cukup mantap, maka ia memperoleh ban tuan serta merasakan tanggung jawab dari seorang suami yang tetap di sampingnya. Amporn, merasakan harus menunggu kedatangan suami yang terikat tugas kemiliteran, suami Grace seringkali pulang kembali ke daerah asalnya, sementara teman hidup Rosa telah meninggalkan keluarganya sebelum anak kembar mereka dilahirkan.

Lingkungan yang Dilanda Kemiskinan

Tidak mengherankan bahwa keempat wanita tersebut di atas mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengurus makanan dan minuman bayi mereka. Amporn memberikan susu botol dari berbagai merek dan makanan tambahan lainnya kepada anaknya; Nyonya Sunoto membiarkan anaknya mendapat susu botol selama tiga hari pertama di rumah sakit, setelah itu ia secara penuh menyusui anaknya sampai harus diberi makanan tambahan pada waktuanaknya berumur kira-kira satu tahun. Grace telah mengkombinasikan susu ibu dengan susu buatan, dengan selingan air glukosa dan bubur, dan Rosa telah memberi minum kepada bayi kembarnya dengan ASI, S-26, air gula dan beberapa jenis sup.

Konteks Komunitas

Rosa, Grace, Nyonya Sunoto dan Amporn bukan merupakan wakil-wakil dari komunitas mereka atau kota mereka dalam artian statistik, tetapi kehidupan mereka mencerminkan segala keruwetan hidup dalam lingkungan masyarakat perkotaan yang miskin di negara-negara Dunia Ketiga. Komunitas-komunitas ini, di masing-masing kotanya, menunjukkan betapa banyak pilihan yang dihadapi para wanita untuk memberi makan anaknya, terutama melalui adanya pasaran pangan dan sistem perawatan kesehatan.

Di tahun 1930-an, William pernah menuduh masyarakat Singapura telah membiarkan kondisi menjadi semakin rusak. Katanya: “Maka dengan demikian seorang bayi sesungguhnya telah dibunuh oleh sebuah komunitas yang membiarkan seorang ibu hidup dalam kondisi yang sedemikian rupa, sehingga membuatnya berhenti menyusui anaknya” (1986: 6). Di bawah ini menyusul bagian-bagian di mana kita akan menempatkan unit keluarga dalam masyarakat yang lebih luas dan dalam konteks perkotaannya.

Guacamayas di Bogota. Rosa tinggal di Guacamayas, suatu daerah di sebelah tenggara Bogota yang berpenduduk sekitar 100.000 orang, kebanyakan dari mereka para imigran yang datang ke Bogota dalam kurun waktu tiga dasawarsa terakhir. Daerah-daerah seperti Juan Rey, La Peninsula, Guacamayas, La Gloria, La Victoria, Altamira dan El Rodeo semuanya mempunyai ciri: perkembangan penduduk yang cepat dan pelayanan umum yang rendah dalam hal perlistrikan, air bersih dan pengangkutan sampah. Meskipun pelayanan kesehatan sebenarnya ada, namun sangat tidak mencukupi kebutuhan, dan karenanya penduduk terpaksa mendatangi pusat kesehatan informal di daerah mereka. Kaum ibu suka mengeluh bahwa mereka diperlakukan secara tidak semestinya di pusat-pusat kesehatan, dan waktu serta jenis pelayanan itu tidak cocok dengan apa yang mereka butuhkan. Sementara itu tersedianya fasilitas kesehatan yang ramai dan mahal mendorong kaum ibu untuk niendatangi toko obat dan ahli pengobatan di kota dalam mencari pelayanan kesehatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here