Peraturan industri yang baru tentang pemasaran pengganti ASI
Peraturan industri yang baru tentang pemasaran pengganti ASI

Di Bogota, saya teringat akan kemarahan seorang etnograf ketika ia menerangkan bahwa di antara beberapa rumah tangga miskin yang bekerja sama dengan dia. Tetapi pada suatu hari ia kembali dan menemukan bahwa bayi yang diberi ASI itu telah meninggal karena infeksi saluran pernafasan setelah sebentar menderita penyakit campak. Pemberian ASI sekalipun, rupanya belum cukup untuk melindungi bayi dari udara dingin dan lembab yang berhembus melalui dinding gubuk itu= Saya tak memiliki jawaban terhadap kesedihan dan kemarahan etnograf itu, dan hanya dapat menyimpan pengalaman pahit itu. Dan di Thailand terdengar alasan dari seorang wanita miskin yang mengatakan bahwa ia tidak mampu memberi makanan yang baik untuk bayinya, dan oleh sebab itu ia terpaksa menyusui bayinya. Pada kunjungan itulah saya benar-benar mendengar bagaimana bunyi pertanyaan penelitian dalam bahasa Thailand; pertanyaan itu secara harfiah menanyakan “dengan jenis Lactogen yang manakah anda memberi makan bayi anda?” Betapa kuatnya nama-nama merek tertentu telah menjadi bagian dari bahasa secara tak disadari dan tersembunyi. Bagaimanakah prosesnya sehingga kita tidak mampu berpikir secara generik dan terlebih dulu ingat mereknya? Di Semarang, saya teringat pada seorang etnograf yang tugasnya mencatat praktek-praktek pemberian susu kepada bayi di rumah tangga. Tetapi karena keluarga itu tidak mampu memberikan makanan yang cocok untuk anak-anaknya, ia mulai “menyelundupkan” buah-buahan segar ke keluarga itu, dan ia cemas bahwa antropolog konsorsium itu akan “menangkap basah” perilakunya yang tidak ilmiah itu.

Tidak begitu menyedihkan tetapi lebih banyak mengungkapkan, adalah kejadian pada suatu libur akhir pekan di Nairobi. Mulanya saya akan pergi ke taman hiburan, tetapi kemudian saya mendengar bahwa para staf konsorsium itu dan orang. -orang lain yang secara aktif terlibat dalam soal-soal pemberian makanan anak akan meneliti konsep Peraturan Nasional Kenya tentang pemasaran pengganti ASI. Secara sekilas konsep itu kelihatannya seperti Peraturan WHO/UNICEF. Tetapi setelah memotong semua kalimatnya menjadi pasal-pasaldan menyusunnya kembali, para staf itu berpendapat bahwa susunan katanya menyerupai “peraturan” ICIFI yang diusulkan oleh The International Council of Infant Food Industries (Dewan Internasional Industri Makanan Bayi). Di sini dibutuhkan ketaj aman mata seorang pengacara untuk menemukan perubahan-perubahan bahasanya.

Hari melelahkan itu menghasilkan suatu kritik secara rinci tentang konsep tersebut, yang menyarankan perubahan yang akan membuat per-aturan nasional Kenya itumenjadi sesuai dengan semangat dan perkataan peraturan WHO/UNICEF. Secara ironis, INFACT Kanada kemudian ter-libat dalam tugas yang serupa. Dalam bulan Oktober 1987, Kesehatan dan Kesejahteraan Kanada menyetujui suatu peraturan industri yang baru tentang pemasaran pengganti ASI, yang diproduksi oleh CIFA (Canadian Infant Formula Association), yang jauh lebih lunak dari Peraturan WHO/ UNICEF.

Pengalaman-pengalaman ini memberikan pada saya kebijaksanaan dan pengertian yang tidak tercermin dalam laporan-laporan penelitian. Ba-rangkali karya saya tentang gaya pemberian makan kepada bayi (Van Esterik 1985a,b) merupakan jawaban terhadap uraian penelitian tentang pemberian makan kepada bayi dan ketidaksenangan saya terhadap penulisan dalam corak bahasa ilmu kesehatan. Saya lebih suka menulis tentang arti, analogi dan hegemoni daripada tentang variabel, frekuensi serta soal sebab dan akibat.

Penyelesaian studi itu dalam tahun 1984 bertepatan dengan berakhirnya boikot terhadap Nestle. Kesejajaran dari dua peristiwa ini membuat saya lebih radikal daripada perdebatan-perdebatan INFACT atau hasil-hasil studi tersebut. Sebab, walaupun kampanye itu berhasil untuk membatasi promosi dari formula susu bayi di negara-negara berkembang dan jumlah yang besar dari pencetakan dengan komputer dari studi tersebut, namun penjualan dari formula susu bayi terus meningkat. Karena proses yang mendasari perubahan-perubahan dalam cara pemberian makanan kepada bayi telah dipahami lebih jelas, maka cara-cara pemasaran berubah menjadi memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang baru khususnya formula susu bayi dan hubungan-hubungan yang lebih erat dengan sekolahsekolah perawat di sana. Sejak saya kembali menjadi pengajar penuh dalam ilmu antropologi, saya telah merenungkan betapa formula susu bayi itu tertanam dalam proses-proses kesehatan yang lebih luas dan menjadikan makanan bayi suatu komoditi di negara-negara berkembang. Dan baru setelah saya mulai memandang persoalan itu dalam kerangka politik ekonomi yang lebih luas, saya lebih banyak memahami ketidaksenangan saya dulu dengan asal mula dari penyusuan bayi dan meneliti pendekatan feminis terhadap kontroversi itu. Sekarang saya menggunakan pengetahuan yang saya peroleh dari pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan kontroversi pemberian susu bayi itu untuk membantu menerangkan soalsoal lain yang berhubungan dengan makanan, wanita dan perkembangan Dunia Ketiga. Dan walaupun rekan-rekan saya mengatakan bahwa kontroversi formula susu bayi itu (a) terlalu sempit, dan (b) tidak relevan dengan ilmu antropologi, namun saya tetap merasa senang untuk kembali pada suatu disiplin yang cukup luas dan fleksibel untuk mencakup hal-hal yang kecil itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here