Pendapat tradisional tentang makanan bayi
Pendapat tradisional tentang makanan bayi

Di rumah sakit, tempat anak kembar Rosa dilahirkan, seringkali ada ceramah yang menekankan pentingnya arti ASI. Lalu di pusat kesehatan, diberikan juga nasihat tentang makna sayuran dan buah-buahan. Para suster di sekolah taman kanak-kanak juga memberikan susu bila keadaan memungkinkan. Maka Rosa sesungguhnya sama sekali tergantung pada para teman dan tetangganya dalam hal makanan, menjaga anak, pekerjaan serta pakaian. Secara sangat minim ia terbuka pada apa yang disebut iklan. Ia memang mempunyai sebuah radio tetapi ia tak sempat mendengarkan siarannya, dan hanya sekali-sekali ia melihat surat kabar di rumah tetangga. Ia tidak terkesan oleh makanan “modern”.

Ketika Rosa masih kecil, ia sudah belajar dari ibunya, bagaimana meng-gunakan ramuan dari tanaman untuk merawat kesehatan anak. Ia memberikan jamu untuk diminun oleh anaknya, memandikan mereka dalam ramuan dedaunan, juga mengompres mereka dengan ramuan, bahkan pada umumnya ia mengandalkan khasiat ramuan untuk menyembuhkan kebanyakan penyakit. Rosa tampaknya juga sangat berhati-hati dalam membedaka n antara makanan yang “panas” dan makanan yang “dingin”. Katanya: “Orang yang “panas” sebaiknya jangan makan makanan yang “dingin” dan sebaliknya orang yang “dingin” sebaiknya jangan makan makanan panas”.

Tentang sup ia berpendapat: “sup akan membentuk lebih banyak darah, terutama jika dibuat dari sayur wortel dan sayur hijau”. Ia juga percaya bahwa makanan gorengan tak baik untuk bayi dan orang dewasa, karena minyak tidak baik untuk perut kita. Sebaliknya Rosa berpendapat bahwa sebotol air dicampur dengan air tebu (panela) sangat baik untuk kesehatan karena “panela memberikan kalori, sedangkan gula hanya sekedar pemanis belaka”. Dan Rosa merasa bahwa ASI adalah yang terbaik, karena bayi-bayi yang disusui ibunya tampak lebih tenang.

Rosa tampaknya tak merasa kekurangan karena pendapatnya yang masih tradisional tentang makanan bayi. Kekurangannya jelas terletak pada segi finansialnya: kondisi kehidupannya yang serba kekurangan –angin pcgunungan yang dingin dan lembab bertiup menembus dindinggubuknya yang tipis, membuat tubuh Rosa menggigil kedinginan, sekaligus membekukan sukmanya sehingga melemahkan kemauannya untuk berjuang terus demi anak-anaknya yang masih bayi.

Grace. Grace berusia dua puluh enam tahun ketika para ahli etnografi bertemu dengannya di daerah kumuh di Kibera, Nairobi. Sebagaimana halnya Rosa, Grace hidup scrba kekurangan, dan ia harus berjuang keras untuk memperoleh bahan pokok kehidupan bagi dirinya dan tiga orang anak perempuan. Ia dibesarkan di dekat Siaya di Kenya Barat dan masih memiliki tanah sebesar satu setengah hektar. Ia menyimpan impian untuk suatu saat dapat meninggalkan Nairobi dan pulang ke daerah asalnya jika ia berhasil membujuk suaminya untuk mencari pekerjaan di luar Nairobi.

Grace pernah mengecap pendidikan lebih tinggi daripada Rosa, tetapi orang tuanya tak mempunyai cukup dana untuk menyekolahkannya ke sekolah lanjutan. Tak berbeda dengan Rosa, Grace pun mulai tinggal dikota dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan kemudian kawin lari dengan suaminya. Mereka tinggal di sebuah rumah petak yang terdiri dari satu ruangan, di ujung suatu deretan kamar-kamar. Dindingnya terbuat dari bahan lumpur yang kasar, sebuah jendela kecil terdapat pada salah satu dinding dan pintunya terbuat dari kayu. Sampah dan kotoran tersebar di rerumputan, tepat di depan rumah mereka.

Mereka tak mempunyai kamar mandi, tetapi para warga biasa membasuh diri di luar kamar, jika hari telah gelap. Hanya ada satu lobang kakus di dekat daerah ini, yang dipakai bersama-sama oleh kira-kira dua belas keluarga.

Air ledeng bersih dapat dibeli di warung-warung, setiap kalengnya seharga empat sen. Keluarga Grace menggunakan empat kaleng setiap ha-rinya untuk memasak dan minum. Untuk mandi dan mencuci pakaian, Grace dapat memperoleh air dari sebuah sungai di dekat waduk Nairobi. Memang, untuk Grace, air bersih sungguh merupakan suatu komoditi yang mewah dan mahal harganya.

Anak perempuan Grace yang tertua dilahirkan pada tahun 1978. Ia menyusui anaknya hanya selama empat bulan, lalu berhenti karena ia me-mang tak mempunyai ASI. Anaknya selalu saja masih menangis setelah me-nyusu.

Ketika berumur delapan bulan, anak itu terkena penyakit campak, tetapi selebihnya tak mengalami gangguan kesehatanyangberarti. Bayi kedua Grace lahir pada tahun 1980, yang disusuinya selama tiga bulan. Setelah itu bayinya tak mau lagi menyusu karena memang ASI-nya tak cukup. Bila si bayi mengisap keras pada puting susu, tetap saja tak ada air susu yang keluar. Anaknya yang paling kecil berumur tujuh bulan ketika para ahli etnografi bertemu dengan Grace.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here