Keadaan Lingkungan Tempat Tinggal dan Relevansinya terhadap Kesehatan
Keadaan Lingkungan Tempat Tinggal dan Relevansinya terhadap Kesehatan

Daerah ini berpenghasilan rendah dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan di mana tenaga kerja informal hanya secara tidak teratur mem-peroleh kesempatan untuk bekerja. Di sini banyak kaum wanita bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sebagai buruh dalam perusahaan-perusahaan kecil atau tinggal di rumah saja. Uang tunai untuk keperluan darurat yang mendesak di sini biasa diperoleh dengan cara menggadaikan berbagai perabotan rumah tangga.

Perkampungan seperti ini memang tumbuh seperti pemukiman liar, dan secara teknis memang tidak legal. Rumah-rumah yang buruk di sini seringkali dihuni oleh beberapa keluarga bersama-sama. Dan teristimewanya di musim hujan, rumah-rumah petak ini sulit dicapai. Sebuah keluarga, terdiri dari tiga belas orang, yang tinggal di dekat Rosa, telah mendirikan gubuk dari bahan kardus; atapnya dari seng tanpa jendela dan lantai tanah dengan ukuran sebesar empat belas meter persegi.

Kota Bogota berbeda sekali dengan Nairobi, Semarang ataupun Bangkok. Berpenduduk hanya 21.000 orang dalam abad ke-119, Bogota kini telah menjadi kota kelima terbesar di Amerika Latin dengan penduduk melebihi empat juta jiwa. Di sekitar tahun 1978, 70 % penduduk Kolumbia tinggal di pedesaan dan hanya 30 % tinggal di kota. Perubahan politik dan ekonomi di negara tersebut, dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, telah menyebabkan pergeseran penyebaran penduduk. Kota-kota terpaksa menampung pendatang dari desa dalam jumlah besar sehingga pada pertengahan tahun tujuh puluhan keadaan telah berbalik, dan 60 % dari penduduk negara ini bermukim di wilayah perkotaan.

Bogota telah tumbuh sedemikian cepatnya, sehingga kota ini tak mampu lagi memenuhi kebutuhan pekerjaan bagi para warga atau juga menye-diakan pelayanan umum yang cukup bagi para pendatang, seperti misalnya kebutuhan akan air bersih, transportasi, perumahan dan pembuangan sampah. Kondisi yang rawan dalam perkampungan tempat para pendatang dan keluarga berpenghasilan rendah ini tinggal, tercermin pada keadaan para balita yang kesehatannya serta tingginya tingkat kematian di antara mereka. Masyarakat Guacamayas memperlihatkan banyak ciri dari daerah miskin, seperti yang terdapat di seputar wilayah pinggiran kota Bogota. Di sini, perpindahan penduduk kebanyakan terdiri dari daerah perkotaan, lebih dari daerah pedesaan secara langsung.

Sebagaimana halnya di dalam keluarga-keluarga paling miskin di Bangkok, Nairobi dan Semarang, wanita-wanita miskin di Bogota menghabiskan banyak waktu dengan bekerja keras untuk mendapatkan sumber daya kehidupan yang sulit diperoleh, lagi pula mahal harganya. Dengan tak habis-habisnya mereka berusaha memperoleh minyak bahan bakar, air bersih dan pangan, dan mereka merasakan betapa sukarnya mengurus rumah tangga sekaligus melakukan kegiatan untuk menambah penghasilan dan menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga dapat merawat anak-anak mereka dengan baik.

Kibera di Nairobi. Di sebelah barat dari Nairobi, ada sebuah daerah pemukiman yang dikenal orang sebagaf Kibera. Jalan-jalan yang baik menghubungkan daerah-daerah pemukiman tempat apartemen untuk orang-orang berpenghasilan sedang, yang dapat menyewa atau membeli apartemen tersebut. Grace tinggal di pedesaan, di mana gubuk-gubuk dari anyaman dedaunan yang dipulas atau kayu yang setengah permanen serta beratap seng gelombang, dihubungkan oleh gang-gang berlumpur yang sempit. Mereka yang menyewa untuk waktu yang lebih lama, membayar uang sewa yang lebih murah. Kakus umum dan kamar mandi disediakan untuk pemakaian bersama di dekat bangunan yang mirip barak itu.

Di perkampungan dengan penghuni liar ini, tidak ada listrik. Keran air yang dimiliki oleh perorangan, dihubungkan langsung ke pipa air milik pemerintahan kota. Lalu keluarga-keluarga membeli air minum ini dalam kantong plastik berisi empat galon air, masing-masing seharga lima sen; umumnya satu keluarga memerlukan empat kantongsetiap harinya. Untuk menghemat uang, banyak wanita mencuci baju dalam “kali” kecil yang mengalir di daerah itu. Cucuran air itu sebenarnya tak lain aliran pembuangan air kotor. Sampah menumpuk di depan gubuk-gubuk itu, bercampur dengan tinja anak-anak yang tidak suka menggunakan kakus umum. Sementara itu sampah dibakar atau dikumpulkan dua kali seminggu dan para pembesar pemerintahan kota pun sekali-sekali mengupah orang untuk menyapu bersih wilayah pedesaan, mungkin karena mereka khawatir akan terjadinya wabah kolera.

Penghuni deretan rumah-rumah kecil ini tidak memperoleh layanan transportasi yang baik. Mereka harus berjalan kaki dua sampai tiga kilometer untuk sampai di jalan be,sar dan dapat naik bis ke Nairobi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here