Melihat Keadaan Nairobi dan Semarang sebagai Pembanding Kualitas Kesehatan
Melihat Keadaan Nairobi dan Semarang sebagai Pembanding Kualitas Kesehatan

Pedesaan ini, sejumlah kecil penduduk menanam sayuran di tanah-tanah terbuka yang terdapat di antara deretan perumahan, dan sementara keluarga juga secara tidak sah memelihara atau beternak ayam atau kambing, dengan tujuan memenuhi kebutuhan makan keluarga, serta menambah persediaan uang untuk keperluan yang mendesak. Kebanyakan dari kebutuhan pangan mereka dapat dibeli di warung setempat. Sementara itu di lingkungan pemukiman penduduk berpenghasilan menengah di Kibera, telah didi rikan pusat-pusat perbelanjaan yang modern.

Letak Kibera yang berdekatan dengan daerah industri besar di Nairobi boleh dikatakan menguntungkan bagi mereka, yangwalaupun tak memiliki keterampilan khusus tetapi toh bisa mendapatkan pekerjaan yang teratur. Para wanita di Kibera sebaliknya hanya memiliki sedikit kesempatan kerja. Sejumlah kecil di antara mereka secara tak tetap bisa mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan tukangjahit; atau terkadang mereka dapat berjualan kebutuhan penduduk, seperti sepatu atau barang lain di warung-warung kecil di depan rumah mereka. Rumah sakit pemerintah yang terbesar letaknya cukup dekat dengan Kibera dan pend uduk juga mendapat pelayanan kesehatan, misalnya dalam klinik bersalin dan perawatan anak. Dan walaupun sekolah dasar juga ada di Kibera, tampaknya tak cukup banyak untuk menampung anak-anak setempat seluruhnya.

Nairobi, ibukota Kenya berkembangsebagai suatu pusat kota administratif yang melayani kebutuhan pemerintahan kolonial Inggris.

Kota yang berpenduduk lebih dari satu juta orang itu mengalami per-kembangan penduduk yang sangat cepat, mencerminkan perkembangan sebesar 3,9% setahunnya. Ini merupakan perkembangan penduduk yang terbesar di dunia. Pada tahun 1975, 57% tenaga kerja dari seluruh Kenya bekerja di pabrik-pabrik di kota Nairobi; dua pertiga dari usaha-usaha industri pun ada di kota ini.

Pada tahun 1975, 57% tenaga kerja dari seluruh Kenya bekerja di pabrik-pabrik di kota Nairobi; dua pertiga dari usaha-usaha industri pun ada di kota ini. Pada tahun 1979, kota ini dihuni oleh 5% dari jumlah penduduk seluruh negara (World Commission on Environment and Development 1987: 238).

Menurut peraturan kolonial di zaman dulu, kota tersebut terpisah-pisah sesuai tingkat sosial, maksudnya ada daerah-daeah yang dibangun menurut pola bangsa Asia, Eropa dan Afrika. Daerah untuk bangsa Afrika terutama harus menderita, karena jumlah rumah tak mencukupi sehingga mengakibatkan rumah-rumah terlalu penuh dan akhirnya menyebabkan terbentuknya pemukiman liar sebagaimana .terjadi di Kibera.

Didorong oleh kebijaksanaan pemerintahan kolonial, organisasi dan perkumpulan di Nairobi terbentuk sesuai kelompok etnik di sana. Lebih ja-uh lagi, kelompok etnik tertentu lalu mendominasi berbagai kedudukan tertentu pula: Suku Kamba di Departemen Pekerjaan Umum, Suku Luo menonjol sebagai ahli tukang; Suku Kikuyu mendominasi penjualan arang dari daerah Nyeri dan sebagainya (Furedi 1973: 2331). Perlu dijelaskan bahwa Suku Kikuyu, sebagai kelompok etnik terbesar di Kenya, memang merupakan 40% dari penduduk kota Nairobi. Di samping organisasi-orga-nisasi menurut kelompok etnik, yang penting juga ialah keanggotaan pada gereja.

Nairobi sesungguhnya merupakan sebuah kota berpenduduk para pendatang dari desa-desa, kebanyakan dari mereka lelaki muda usia. Pada dasawarsa-dasawarsa awal abad ini, umumnya para migran ini datang sendirian sebagai buruh musiman atas dasar kontrak jangka pendek. Di pertengahan tahun tujuh puluhan, kurang dari 5% penduduk dewasa dilahirkan di kota tersebut dan tak banyak yang tinggal selamanya sebagai orang dewasa di kota itu (Ross dan Weisner 1977: 363). Hubungan antara keluarga-keluarga di pedesaan dan perkotaan di tempat ini luar biasa era tnya dan tetap ber-tahan demikian, walaupun kemudian para migran di kota secara relatif telah mencapai sukses dalam hidup mereka. Seringkali para wanita tetap tinggal dalam keluarga di desa asal dan bergabung dengan suami mereka hanya selama musim paceklik dalam usaha tani mereka. Sesungguhnya, perempuan tidak merupakan bagian yang penting dalam barisan angkatan kerja di Nairobi sampai setelah tahun 1952. Dan sampai pertengahan tahun empat puluhan, kebanyakan pekerjaan domestik pun masih tertutup bagi para wanita (Furedi 1983: 227).

Krobokan di Semarang. Terletak di bagian pinggiran sebelah barat kota Semarang, daerah perkotaan baru ini meliputi lebih dari 200 hektare tanah, dihuni oleh lebih dari 17.000 penduduk, termasuk Nyonya Sunoto dan keluarganya. Daerah ini mendapat berbagai fasili tas dalam rangka program pengembangan kota dan kemudian lebih diperluas lagi melalui Proyek Perbaikan Kampung 1980. Jalan-jalan di tempat ini telah dilapis dengan aspal, sementara penerangan listrik pun telah masuk dan selokan-selokan telah dibersihkan. Masyarakat di pinggiran kota ini, dengan jalan-jalan serta pekarangan yang lebih luas, terasa lebih terbuka dan lebih nyaman, dibanding masyarakat di tengah-tengah kota. Rumah-rumah tempat tinggal di daerah tersebut merupakan kombinasi dari rumah batu gaya Eropa dan rumah gaya pedesaan, yang terbuat dari bambu dan kayu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here