Kualitas Kesehatan di Lingkungan yang Dilanda Kemiskinan
Kualitas Kesehatan di Lingkungan yang Dilanda Kemiskinan

LINGKUNGAN YANG DILANDA KEMISKINAN

DALAM bab ini saya ingin menggambarkan bagaimana empat orang wanita yang berasal dari masyarakat perkotaan yang sangat berbeda, dihubungkan oleh proses dan lembaga yang bergerak melintasi batas-batas negara. Proses serta lembaga ini, yang merupakan bagian dari sistem tata dunia yang lebih luas, dengan berbagai cara dapat mempengaruhi keputusan para ibu mengenai makanan bayi mereka. Dan dalam kerja lapangan di bidang etnografi, sungguh sangat menarik untuk sejenak mendalami ciri-ciri unik dalam kehidupan pribadi seseorang secara individual, dan memperhatikan kejadian-kejadian khusus dalam masyarakat sekeliling mereka serta seka-ligus mengabaikan hubungan lebih luas yang ada antara masyarakat-masyarakat itu.

Namun sesungguhnya, hubungan-hubungan itu sangat penting artinya untuk memahami betapa keluarga dan masyarakat tertentu dalam negara-negara Dunia Ketiga itu erat terpadu dalam sistem dunia. Hal-hal ini juga merupakan peringatan penting akan adanya hubungan antara “kami” dan “mereka”, sesuatu yang merupakan aspek khusus yang penting di sekitar masalah kontroversi susu buatan untuk bayi. Mengapa demikian? Karena sebelumnya, melalui kegiatan penerangan dan anjuranlah kaum wanita di kota-kota di Amerika Utara dapat memahami dan menerima adanya ke-sulitan yang harus dihadapi oleh wanita lain di negara miskin dalam upaya membesarkan anak-anak mereka.

Lebih dari satu miliar manusia bermukim di kota-kota, suatu jumlah yang menunjukkan penambahan sebesar sepuluh kali lipat bila diban-dingkan dengan keadaan di tahun 1920 ( World Commission on Environ-ment and Development 1987: 16). Tetapi banyak dari kota tersebut tidak mampu menyediakan pelayanan dan fasilitas pada jumlah penduduk yang terus berkembang secara cepat; pelayanan dan fasilitas yang dibutuhkan untuk mempertahankan mutu kehidupan yang layak bagi mereka dan anak-anak. Di Nairobi, Bangkok, dan Bogota, hal ini telah mengakibatkan tumbuhnya daerah pemukiman liar dengan fasilitas yang lebih parah daripada di daerah pemukiman yang sah. Empat orang wanita yang di-lukiskan di sini, tanpa kecuali hidup dalam cengkeraman kerawanan ling-kungan, mengalami kekurangan-kekurangan yang parah dalam hal peru-mahan, air bersih, sanitasi dan seringkali juga tanpa jaminan pangan. Kemiskinan sungguh-sungguh telah mencemari lingkungan mereka.

Empat Wanita

Rosa, Grace, Sunoto (tentunya Nyonya Sunoto penerjemah) dan Amporn, diikutsertakan sebagai komponen etnografis dalam suatu peneli-tian mengenai praktek pemberian makanan kepada bayi di empat negara, sebagaimana disebutkan dalam Bab I. Kisah kehidupan empat wanita itu disusun oleh tim-tim yang terdiri dari para ahli riset bidang etnografi di masing-masing negaranya. Kelompok-kelompok tim tersebut mula-mula memilih tiga atau empat wilayah yang dihuni oleh penduduk berpengha-silan rendah di masing-masing kota mereka dan mengadakan observasi secara intensif selama tiga bulan dalam masyarakat dan keluarga-keluarga; mereka mengadakan serangkaian wawancara mengenai topik-topik, seperti komposisi keluarga, tatanan fisiknya, aktivitas para ibu, sumber-sumber masyarakat serta mengenai praktek pemberian makan kepada bayi. Analisis dan studi kasus yang mereka hasilkan merupakan latar belakang untuk konstruksi dari survei mengenai makanan bayi di setiap kota.

Mengapa empat wanita ini yang dipilih? Alasan-alasan untuk itu ialah menuruti kehendak hati dan kecoeokan para ahli etnografi di empat kota tersebut dengan sangat sungguh-sungguh telah menuliskan kisah kehidupan empat wanita itu barangkali karena mereka melihat dalam kehidupan orang-orang tersebut ada tema-tema tertentu tampak berulang-ulang selama dilakukan penelitian, barangkali juga karena hubungan yang dijalin lebih mendalam dari sekedar manusiawi. Ada sesuatu dalam kehidupan wanitawanita itu yang menyentuh kehidupan para ahli etnografi sendiri.

Dari pihak saya mungkin terasa adanya sentuhan pribadi, karena saya berjumpa dengan tiga orang di antara mereka. Saya sempat tinggal di rumah mereka dan karenanya dapat menggambarkan keadaan mereka dengan lebih nyata. Tetapi sebenarnya mereka tidak khas sama sekali. Tetangga-tetangga mereka pun dapat saja menggambarkan kondisi kehidupan di dalam masyarakat-masyarakat ini.

Andaikata keempat orang itu dapat saling berjumpa satu sama lain, mereka akan menemukan banyak sekali persamaan, walaupun letak geografis yang berjauhan dan perbedaan budaya memisahkan mereka. Rosa ber-mukim di sudut tenggara Bogota di kaki Pegunungan Andes, Grace dari Kibera, sebuah kota kecil di sebelah barat Nairobi, Nyonya Sunoto dari kota karesidenan sebelah barat Semarang, Jawa Tengah dan Amporn dari suatu kota kabupaten tua di Dhonburi, Bangkok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here