Kisah Mengenai Rosa dan Metode Memberi Makan Bayinya
Kisah Mengenai Rosa dan Metode Memberi Makan Bayinya

Rosa. Rosa Suarez dilahirkan di Santander (dekat perbatasan Venezuela); ia anak ketujuh dalam keluarganya. Ayahnya meninggal ketika ia baru berumur dua tahun. Ia tak pernah sekolah, tetapi belajar menulis namanya sendiri serta dapat membaca sedikit-sedikit.Tatkala ia berumur sebelas tahun, ia meninggalkan kota kelahirannya dan tinggal pada seorang kerabat di kota Bucaramanga, sampai ia berumur enam belas tahun, lalu hidup sendiri di Bogota. Selama dua tahun ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga, kemudian ia bertemu seorang lelaki dan hidup bersamanya selama tujuh tahun. Dalam kurun waktu itu, ia bekerja pada beberapa keluarga pada siang hari, mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga dan menjaga anak. Ketika para ahli etnografi bertemu dengannya, Rosa mempunyai seorang anak berumur lima tahun dan sepasang anak kembar berumur tujuh bulan.

Sebelum anak kembarnya lahir, keadaannya sangat sulit. Ketika suami saya mendengar, bahwa kami akan mempunyai anak kembar, kami malah bertengkar lalu ia meninggalkan saya. Ketika saya mengandung tujuh bulan, saya mengalami pendarahan, barangkali /(arena pertengkaran dengan suami, lalu saya pergi ke rumah sakit. Di sana dokter memberikan pil penenang. Ia mengatakan bahwa bagaimanapun bayi-bayi harus dikeluarkan, kalau tidak, mereka mungkin akan meninggal. Saya diberi obat bius lalu dokter pun mengeluarkan bayi-bayi saya dengan tang. Saya tak menyangka mereka akan hadir begitu cepat, sehingga saya belum mempersiapkan apa-apa bagi mereka. Saya juga tak mempunyai biaya untuk membesarkan mereka. Dokter menawarkan untuk mengambil salah seorang dari bayi saya, karena ia dan isterinya ingin sekali mempunyai anak tetapi sejauh ini belum berhasil. Saya katakan kepadanya, bahwa saya tak akan mungkin memberikan bayi saya kepada orang lain; sebaliknya saya akan mencari jalan untuk dapat merawat mereka. Ketika saya meninggalkan rumah sakit, mereka menganjurkan agar saya membuat kantong dari baju-baju bekas dan mengisinya dengan botol-botol berisi air panas, untuk menjaga agar bayi-bayi saya tahan terhadap hawa dingin”. Demikian kisah Rosa. Ia ternyata dapat mengatasi masa-masa sulit ini, terutama berkat bantuan dan nasihat yang diterimanya dari wanita-wanita tempat ia bekerja.

Gubuk Rosa terdiri dari dua bilik kecil, yang satu berisi sebuah meja dan tempat tidur di mana semua anggota keluarga tidur. Bilik yang satu lagi berfungsi sebagai dapur, kamar makan dan kamar mandi. Di rumahnya tidak ada air ledeng, tetapi untung ia memperoleh air sebanyak yang diperlukannya dari para tetangga. Ia biasa masak satu macam makanan di atas kompornya yang mempunyai dua mata api. Ia memiliki beberapa panci dan perabot rumah tangga lain, tetapi suatu kali ketika bayinya jatuh sakit, ia terpaksa menjual pancinya bertekanan tinggi (pressure coolcer). Keadaan ekonomi Rosa menjadi sangat kritis. Ia bekerja tidak teratur, misalnya mencuci pakaian untuk tetangga dan untuk itu mendapat imbalan berupa bahan makanan atau uang tunai. Demikianlah, ia bekerja hanya kira-kira empat hari dalam seminggu, karena ia tak selalu mempunyai tempat untuk menitipkan bayi-bayinya.

Dulu Rosa sendiri mendapatkan ASI selama dua tahun, kemudian ia diberi susu kambing, karena dianggap lebih sehat daripada susu sapi. Mereka terkadang juga minum susu keledai, tetapi susunya begitu kental sehingga sulit dicernakan oleh sementara anak. Mereka juga menyantap berbagai makanan lain, seperti misalnya air tebu, kue dari jagung, yuca, pisang raja, labu, jeruk dan buah berri hitam. Buah-buahan dan sayuran memang diberikan kepada anak-anak, segera setelah mereka bisa memegangnya sendiri.

Cara Rosa memberi makan anak sulungnya sangat berlainan dengan apa yang dialaminya sendiri. Anak ini diberi ASI pada dua bulan pertama setelah dilahirkan; kemudian Rosa terserang demam sehingga mempengaruhi produksi ASI-nya. Setelah itu, bayi lelakinya diberi “susu Belanda”, telur, sari buah, buah-buahan, sayuran dan daging. Anak sulung ini cukup makan, karena ketika itu pendapatan “suami” Rosa lumayan jugalah. Sebaliknya, si kembar dilahirkan ketika “suaminya” itu meninggalkannya, sehingga bayi-bayi itu tak dapat diberi makanan sebaik dulu.

Dan karena lahirnya pun prematur, Rosa benar-benar tak mempunyai persediaan apa-apa untuk si kembar. Dokter memberi nasihat agar sedapat mungkin ia menyusui bayi-bayinya itu; dan Rosa pun telah menyadari bahwa menyusui merupakan cara paling praktis untuk anak-anaknya. Ia merasakan, seakan-akan sepanjang hari ia sibuk saja menyusui bayi yang satu atau yang lainnya. Dan tatkala ia merasakan bahwa mereka tetap tidak kenyang, maka ia memberikan makanan tambahan berupa susu kaleng S26. Ia juga memberikan air gula yang dicampur dengan empat sendok susu bubuk. Ketika umur mereka lima bulan, Rosa mulai memberikan makanan lain kepada anak kembarnya, karena tampaknya mereka tak sehat. Sedikit demi sedikit, ia memberi makan anaknya kuning telur, sari buah jambu dan sup sayuran, semuanya dipersiapkan khusus untuk bayi-bayi itu. Tetapi semua itu tetap tergantung pada keadaan, apakah Rosa mempunyai cukup uang untuk membeli makatifin atau mendapatkan bahan makanan sebagai imbalan kerja hari itu.

Rosa juga mencatat bahwa salah seorang dari anak kembarnya makan lebih banyak daripada yang lain, dan juga seakan-akan tampak lebih tajam perhatiannya. Kedua bayi itu sebenarnya seringkali sakit, misalnya terkena bronkitis, flu, gangguan pencernaan, dan sebagainya.

Hal ini mengakibatkan kesulitan bagi Rosa untuk menitipkan mereka sementara ia pergi bekerja. Makanan apa pun yang dapat diperolehnya, semua diberikan kepada anak kembarnya, karena ia merasa anaknya yang lebih besar telah mendapat cukup makan di sekolah taman kanak-kanak. Baru bila ia mendapat makanan ekstra, pada malam hari diberikan kepada anaknya yang lebih besar. Rosa sendiri makan di rumah tetangganya sebagai imbalan pekerjaannya membersihkan rumah atau menjaga anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here