Kisah Mengenai Grace yang Merawat Bayinya
Kisah Mengenai Grace yang Merawat Bayinya

Wanita ini datang ke klinik pemeriksaan kandungan pada waktu hamil enam bulan, karena ia perlu mendaftar di sana; kalau tidak ia tidak akan dapat melahirkan di rumah sakit. Di klinik ini, Grace banyak belajar me-ngenai hal-hal baru sekitar masalah makanan yang seimbang dan apa yang harus disediakannya untuk menyambut kedatangan si bayi baru. Tetapi ternyata kemudian ia melahirkan di rumah sendiri, dengan bantuan seorang tetangga. Tetangga ini bukan seorang ahli, tetapi telah sering memberikan pertolongan kepada wanita-wanita di desa itu.

Walaupun tetangga ini tak menuntut imbalan untuk bantuannya itu, namun ia menerima pemberian sekedarnya. Ketika itu Grace terpaksa melahirkan di rumah karena suaminya sedang pulang ke daerah asalnya, meninggalkannya dengan anak-anak begitu saja. Bersalin di rumah sakit sulit baginya, karena ini berarti harus meninggalkan anak-anaknya sendirian di rumah. Demikianlah si bayi ditidurkan di samping Grace segera setelah dilahirkan, dan untuk sementara tetap tidur di sana. Tak lama sesudah lahir, bayi tersebut diberi minum air matang, dan selanjutnya selama dua hari Grace memberinya air glukosa, karena ternyata ia tak mempunyai ASI sama sekali. Dimasaknya air sampai mendidih, dan setelah cukup dingin, dimasukkannya sesendok teh glukosa pada empat puluh cc air lalu disuapkannya pada bayinya. Untuk ini ia menggunakan sebuah cangkir besar dan sebuah sendok, sebagaimana ia mengalaminya pada waktu melahirkan sebelumnya di rumah sakit.

Bayinya menangis terus-menerus selama dua bulan pertama, sehingga ia harus bangun sampai lima kali dalam satu malam. Sesungguhnya ia tak merasa sulit untuk menyusui anaknya, namun memang ASI-nya tak cukup. Maka ia harus cepat memberikan tambahan minumnya, jadi air glukosa langsung diberikan setiap kali habis menyusui.

Dua bulan setelah dilahirkan, bayi itu dibawanya ke klinik; di sana Grace dinasehati untuk memberikan minuman susu tambahan. Maka ia memberi S-26 seharga US $ 2,73 untuk sekaleng kecil, dan memberikan kepada anaknya seperti yangdiinstruksikan di klinik. Dua kali dalam sehari (yaitu pada pukul 10 pagi dan 9 malam), ia memberi minum susu S-26 serta air glukosa sebagai tambahan ASI. Pada waktu bayinya berumur tiga bulan, seorang tetangga memberi saran agar bayinya diberi bubur dua kali sehari, dengan maksud agar ia kenyang dan dapat tidur tenang di malam hari. Grace lalu membuat bubur dari tepung jagung putih yang dib ubuh inya gula dan beberapa tetes air jeruk.

Makanan tambahan berupa S-26, bubur serta air glukosa ini terus diberikan, masing-masing dua kali sehari. Kemudian ia berhenti membeli S26 karena bayinya telah cukup besar untuk diberi susu sapi segar yang dapat diperolehnya dalam kemasan. Tambahan lagi, membeli S-26 dan glukosa terasa berat baginya karena memakai sebagian besar dari pendapatannya yang kecil itu. Maka ia menyusui anaknya hanya bila bayi itu meminta, tetapi sebenarnya air susunya hanya tinggal sedikit.

Ketika anaknya berumur lima bulan, tiba-tiba ia mendapati adanya bercak-bercak merah di tubuh anak itu, matanya merah sementara mulutnya tampak penuh sariawan dan lidahnya kotor. Dibawanya anak tersebut ke klinik, tempat ia mendapat perawatan yang baik; diagnosa dokter waktu itu ia menderita campak. Grace mendapat obat untuk tiga hari, tetapi setelah itu ia belum sembuh juga. Oleh karenanya ia memutuskan untuk membawa bayinya ke Rumah Sakit Nasional di Kenyatta, di mana anaknya diterima di bagian Observasi Anak. Anak itu mengalami dehidrasi yang parah sekaligus bronkitis-pneumonia yang muncul sesudah campak. Selama empat hari Grace dan anaknya tinggal di bagian ini. Si bayi diberi makan melalui pembuluh darah dan diberi perawatan untuk marasmus. Pada waktu anaknya mulai sembuh, Grace minta seorang perawat kesehatan masyarakat untuk membawanya pulang ke Kibera dan Grace memperoleh sekaleng susu bubuk skim.

Di rumah, setiap harinya Grace bangun pukul enam pagi lalu menye-diakan sarapan untuk suaminya. Bila tak ada sisa susu dari hari sebelumnya, ia membuat bubur hanya dari tepung jagung putih. Pada pukul tujuh pagi, Grace menyuruh pembantunya, seorang anak lelaki berumur sebelas tahun, untuk membeli susu dalam kemasan isi dua liter di warung. Untuk sarapan anak-anaknya yang lain diberinya teh campur susu dan roti, jika sedang ada. Untuk anak paling kecil ia membuat bubur yang ditambah dengan sedikit susu, jika ada.

Pembantunya yang kecil itu kemudian mengangkat air dari kali, me-nyalakan tungku arang, dan memandikan anak-anak yang masih kecil sementara Grace sibuk dengan bayinya. Grace selesai menidurkan bayinya pada kira-kira pukul 8 pagi. Dan segera pula ia selesai menyapu rumah serta membereskan tempat tidur. Tikar dan selimut anak-anak yang lain kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Pembantunya mencuci pakaian si bayi, kemudian dikeringkan di atas rerumputan. Grace kemudian memberikan minum air glukosa atau susu kepada bayinya pada pukul sebelas siang. Susu itu terlebih dulu dihangatkan dan dimasukkan dalam botol yang telah dicuci dengan air panas setelah dipakai untuk makanan pertama berupa bubur.

Karena suaminya tak pulang untuk makan siang, maka Grace mem-persiapkan makanan untuk anak-anak dan dirinya sendiri saja pada sekitar pukul 12.30. Jika mereka makan bubur dengan ikan atau daging, maka bayinya diberi bubur yang dihaluskan dengan sup serta kemudian 50 cc susu hangat. Pada sekitar jam empat sore, pembantunya kembali membuat bubur untuk seluruh keluarga. Grace memberikan bubur itu kepada anakanaknya dan meninggalkan sedikit untuk suaminya. Untuk yang paling kecil ia menyediakan juga bubur yang diencerkan dengan air jeruk dan gula serta dimasukkan ke dalam botol. Sekitar pukul lima sore kembali ia memasak makanan untuk makan malam dan membeli lagi sekaleng air dari si penjual air. Pembantunya mengambil air lagi dari kali untuk mandi Grace dan anak-anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here