Cara Nyonya Sunoto Menambah ASInya
Cara Nyonya Sunoto Menambah ASInya

Nyonya Sunoto menyusui anaknya setiap anak itu menangis, jadi tanpa ada jadwal yang teratur. Ia tahu, bahwa ASI adalah baik, dan lebih sehat dari susu kaleng. Untuk itu, agar air susunya bertambah banyak, ia makan banyak sayur-sayuran dan minum jatnu. Selama menyusui anaknya, Nyonya Sunoto berpantang makan ikan segar, cabai dan taoge, konon katanya agar susunya tak tercampur rasa kurang enak. Ia juga tak banyak minum air ketika menyusui. Kemudian bila datang waktu untuk menyapih anaknya (berhenti minum ASI), maka ia akan memberikan air atau teh terus-menerus, kapan saja anak itu memintanya. Pada umumnya, Nyonya Sunoto tak mengalami kesulitan selama menyusui anak-anaknya.

Ketika ia hamil, ia membiasakan untuk berpantang makan buah nanas, ketimun, pisang dan sayuran tertentu, juga menghindari minumanpanas atau juga minuman manis yang dicampur es. Kemudian bila ia habis bersalin, maka ia biasa minum anggur penguat; ia juga menggunakan pilis, ramuan daun-daunan yang ditempel di dahi. Ketika ia hamil untuk pertama kali, maka neneknya telah menyelenggarakan suatu upacara mitoni atau menyambut bulan ke tujuh dari kehamilan di Surabaya, yang secara tradisional mempunyai maksud agar persalinan nantinya berjalan mulus dan lancar.

Demildanlah, jika salah seorang anaknya jatuh sakit, maka ia akan segera membawanya pada seorang bidan tradisional di daerah itu untuk suatu upacara penyembuhan secara tradisional. Baru sesudahnya, ia akan mem-berikan Bodrexin, sejenis aspirin, dan jika si anak belum sembuh juga, maka baru ia membawanya ke suatu poliklinik setempat.

Walau hidupnya selalu sulit, ia beruntung selalu mendapat bantuan dari suami atau ibunya, dan dengan demikian dapat mengatasi berbagai penderitaan. Dan bila tanpa terelakkan datang juga masa kritis dalam kehidupan keluarga ini, mereka selalu menghadapinya dengan menempuh upacara tradisional sesuai adat Jawa.

Amporn. Amporn, seorang wanita muda yang menarik dan pemalu, berusia dua puluh tujuh tahun, datang ke Bangkok dari propinsi Ubonratchathani, di bagian timur laut Thailand, kira-kira delapan tahun yang lalu. Ia menikah dengan seorang pria muda dari Propinsi Cholburi, lalu menetap di sebuah rumah kecil di daerah Pasricharoen, Dhonburi, Bangkok. Rumah kecil itu, yang mengelompok dengan rumah-rumah lain di dekatnya, langsung menghadap pada suatu jalan kecil bersemen menuju ke suatu lorong pasar yang ramai.

Amporn biasa bekerja sebagai seorang pengasuh anak satu keluarga di Bangkok. Sebelum mulai bekerja sebagai pengasuh anak, ia pernah menjalani kursus kilat mengenai perawatan anak, dan untuk ini mendapat ijazah. Suaminya seorang anggota Angkatan Udara Kerajaan Thai (Royal Thai Air Force), ditempatkan di Chiang Mai. Sekali tiap tiga minggu ia mengunjungi isterinya. Setelah mempunyai beberapa anak, Amporn berhenti bekerja. Tetapi karena dirasakan bahwa pendapatan keluarga sebesar 3.000 baht (US $ 150/bulan) tidak mencukupi, maka ia berusaha untuk kembali bekerja.

Amporn mempunyai tiga orang anak; anaknya yang paling kecil yang dilahirkan di Rumah Sakit Sirirat di Bangkok, berumur dua bulan ketika para ahli etnografi pertama kali berjumpa dengan Amporn. Anak ini tak pernah menyusu pada ibunya, walau Amporn pernah sekali mencoba ketika masih berada di rumah sakit. Tetapi sejak hari pertama di rumah sakit itu, bayi ini memang diberi minum botol berupa susu Lactogen. Di rumah ketika ia mulai diare, Amporn berhenti memberikan susu Lactogen.

Keseluruhannya, selama dua bulan pertama, bayi ini 16 kali mengalami diare. Dan setiap kali, Amporn berusaha mengganti merek susu sambil mencari nasihat dari para ahli kesehatan. Mula-mula, ia membawa anaknya kembali ke Rumah Sakit Sirirat, di mana ia diberitahu bahwa bukan karena susunya, tetapi cara mempersiapkannya mungkin tidak benar. Mungkin botolnya kurang steril. Padahal untuk membersihkan botol ia menggunakan air mendidih dan menyimpannya di dalam termos.

Kemudian, Amporn membawa bayinya berobat ke suatu klinik ke-sehatan di mana ia dinasihati untuk memberikan air garam dalam botol Sprite kepada anaknya. Ini pun ternyata tidak memberi manfaat. Lalu ia dianjurkan untuk mencoba formula minuman bayi yang sudah banyak dikenal yaitu Bear Brand yang dapat diperoleh di pasar setempat. Tetapi ketika penyakit diare anaknya terus berlanjut, Amporn membawa anaknya ke rumah sakit anak-anak. Di sana ia disuruh membeli Prosobee, susu untuk bayi terbuat dari kedele “khusus untuk penderita diare”. Selama masa penuh colx.lan ini, ia senantiasa mendapat dorongan dari para tetangga untuk mencoba berbagai jenis minuman yang mereka pernah pakai untuk anak-anak mereka.

Sebaliknya, suaminya tak habis mengerti mengapa Amporn tak juga mau menyusui bayinya, karena tindakan ini akan sangat menghemat biaya yang mereka gunakan untuk membeli susu bayi dalam kaleng, obat-obatan, di samping biaya klinik, dan dengan demikian mungkin si bayi pun akan menjadi sehat kembali. Tetapi Amporn mungkin memang tak menduga akan mengalami berbagai masalah sekitar susu bayi untuk anaknya yang paling kecil ini, karena sebelumnya anak-anaknya yang lain sejak lahir selalu diberi minum Lactogen dan tak pernah mengalami kesulitan.

Walaupun ia tak mempunyai sanak keluarga yang tinggal berdekatan di kota Bangkok, yang dapat memberikan nasihat ataupun bantuan, Amporn secara teratur berkunjung ke Arunyaprathet untuk menengok kedua anaknya yang lebih besar yang hidup di desa sampai mereka mencapai usia sekolah. Sebagaimana halnya dengan Nyonya Sunoto, Amporn pun suka mengikuti berbagai acara tradisional, seperti misalnya mencukur rambut “ari” bayinya dan juga berpantang berbagai jenis makanan untuk ibu-ibu yang menyusui, sedangkan ia sendiri tak pernah menyusui bayinya. Misalnya ia berpantang makan daging sapi, ikan laut dan makanan yang asam-asam selama dua bulan sehabis melahirkan. Ketika penelitian menuju akhir, Amporn telah kembali bekerja sebagai pengasuh anak, sambil menjaga anaknya yang paling kecil, yang sementara itu telah sembuh dari penyakit diare.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here