Beragam Cara Wanita Mengasuh Bayi Bergantung pada Lingkungannya
Beragam Cara Wanita Mengasuh Bayi Bergantung pada Lingkungannya

Dua kali dalam seminggu, Grace pergi pada dini hari ke pasar induk untuk membeli sayuran di Nairobi, kembali pulang naik bis dan berjalan kaki, pada kira-kira jam 10 pagi. Di luar rumahnya ia membuka warung kecil untuk berjualan bawang, tomat, sayuran, dan sekali-sekali ikan asin dan kacang tanah kepada para tetangganya. Sesungguhnya ia lebih suka berjualan di warungnya di tepi jalan besar, di mana ia dapat menarik lebih banyak pembeli, namun sejak anaknya yang paling kecil jatuh sakit dulu, ia berjualan hanya di depan rumah saja.

Dua orang anaknya yang telah lebih besar berperut buncit, berambut kecoklatan dan tampaknya menunjukkan gejala penyakit kwashiorkor (sejenis gangguan gizi) dan infeksi yang membuat mereka merasa gatal-gatal. Bersama pembantunya, anak-anak ini berada di luar rumah, bermain dengan anak-anak sebaya di desa itu. Mereka buang air besar di halaman belakang rumah, untuk kemudian dipungut oleh si pembantu dengan kertas dan baru dibuang ke kakus umum.

Sebagaimana Rosa, sikap Grace sangat dipengaruhi oleh wanita maji-kannya tempat ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia juga mem-peroleh pengaruh dari para perawat di rumah sakit serta beberapa teman dekat. Setiap hari Minggu seluruh keluarga pergi ke gereja, dan membeli baju baru hanya sekali setahun menjelang hari Natal. Andaikata ia mempu-nyai cukup uang, Grace ingin sekali memberikan kepada anaknya yang masih bayi itu minuman dan makanan yang paling bermutu yang terbeli olehnya: S-26, Cerelac, Ribena (sirop hitam dari buah anggur), glukosa, minyak ikan, daging, ikan dan buah-buahan. Tetapi bagi Grace, makanan seperti ini tak terjangkau dan tetap merupakan impian belaka.

Nyonya Sunoto. Di pinggiran kota Semarang sebelah barat, Jawa Te-ngah, hiduplah Nyonya Sunoto, berumur 25 tahun dengan dua orang anak-nya, seorang anak laki-laldberumur 6 tahun dan seorang anak perempuan, umur delapan belas bulan. Ia sendiri dilahirkan di Surabaya sebagai anak ketiga dari 7 orang bersaudara, perempuan semua. Ketika ia berumur 14 tahun, ia mulai bekerja di suatu kantor percetakan, dan bertahan selama lima tahun. Dan tatkala ia menginjak usia 19 tahun, ia diperkenalkan kepada teman kakaknya; dua bulan kemudian mereka menikah.

Suaminya seorang sopir truk di kota Semarang dan di rumah mereka bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Suaminya berangkat pukul 9 pagi, dan baru pulang pada malam hari. Nyonya Sunoto sehari-harinya mengasuh anak-anaknya, memasak, mencuci dan berbelanja. Ia merencanakan untuk mengirim anak sulungnya ke sebuah sekolah dasar, jika mencapai umur tujuh tahun nanti. Untuk anak kedua ia belum mempunyai rencana apaapa, karena masih terlalu kecil. Wanita ini tak mempunyai aktivitas lain kecuali pekerjaan di dalam rumah tangganya. Ia sama sekali tak pernah ikut dalam kegiatan kelompok wanita setempat, katanya “karena malu dan merasa tak memiliki kemampuan apa-apa”.

Selama tiga tahun, Nyonya Sunoto dan keluarga tinggal di rumah sau-dara lelaki dari suaminya, tanpa harus membayar sewa. Rumah kecil itu terbuat dari papan, beralas tanah kasar. Untuk penerangan mereka menggunakan lilin, dan untukcuci-mencuci mereka memakai air sumur. Keluarga ini tak memiliki kakus, maka terpaksa harus memakai kakus umum yang letaknya kira-kira 100 meter dari rumah. Anak-anak malah buang air besar di pekarangan rumah saja, lalu membuang tinjanya ke selokan di sana. Mereka mempunyai bak sampah dan jika telah penuh baru sampahnya dibakar.

Perabotan rumah tangga mereka berupa satu rak piring, sebuah tatakan berkaki tiga untuk masak-memasak, sebuah meja rendah untuk kompor, satu tempat tidur, gantungan handuk dari kayu, sebuah bale-bale (tanpa kasur), satu meja untuk menaruh lampu dan radio serta satu lemari makan. Nyonya Sunoto menggunakan si kaki tiga atau kompor. untuk masak. Perabotan dapurnya sangat sederhana termasuk satu wajan, dua panci, beberapa piring dan mangkuk. Ia juga mempunyai sebuah botol plastik, yang dipakai oleh anak lelakinya yang tertua untuk minum teh.

Kedua anak Nyonya Sunoto dilahirkan di Rumah Sakit Dr. Kariadi di Semarang. Ketika masih di rumah sakit, anaknya yang kedua diberi minum susu Lactona selama tiga hari. Setelah itu, hanya diberi ASI tanpa tam-bahan susu yang lain. Waktu bayinya berumur tujuh hari, Nyonya Sunoto mencoba memberikan pisang yang dihaluskan, namun si bayi tak mau. Pada umur delapanbulan, dicoba lagi memberikan nasi lunak, tetapi lagilagi bayinya muntah, maka tak diteruskan. Lalu ketika si anak mencapai umur satu tahun, Nyonya Sunoto menyuapinya dengan singkong rebus yang dihaluskan, ternyata ia sangat suka.

Kemudian, dari waktu ke waktu anak tersebut sudah bisa ikut makan nasi beserta lauk-pauk yang biasa dimakan keluarga itu. Kadang-kadang ayahnya pulang dan membawakan tahu untuknya, didapat dari pabrik tahu tempat ia bekerja. Pengalaman Nyonya Sunoto ialah, jika anaknya diberi makan yang padat, seringkali tidak mau, maka ia berkesimpulan bahwa makanan seperti itu tak disukainya dan tak cocok untuknya, lalu akhirnya ia berhenti memberikan kepadanya. Sekarang, pada umur 18 bulan, anaknya sudah suka makan getuk singkong, pisang dan nasi yang dimasak dengan bayam serta tahu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here